Rugi Triliunan Rupiah, Wartiah Pertanyakan Agresifitas ASABRI

0
196

EKBIZ.ID – Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PPP Wartiah mempertanyakan agresifitas Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI) dalam mencari keuntungan.

Wartiah menilai strategi ASABRI yang terlalu agresif dalam mencari return tinggi namun dengan resiko penempatan dana yang resikonya juga tinggi. Karena agresivitas ini ASABRI disebut mengalami kerugian yang mencapai triliunan rupiah.

“ASABRI seharusnya berkepentingan untuk menciptakan likuiditas jangka panjang agar pembayaran klaen tetap aman,” ujarnya, Kamis,(30/1/2020).

Menurutnya, sebagai perusahaan asuransi sosial, ASABRI seharusnya tidak perlu mengambil resiko besar dengan melakukan investasi beresiko tinggi. Oleh karena itu, perlu dipertanyakan dan diinvestigasi motif para direksi yang menempatkan dana di saham yang spekulatif.

“Pada tahun 2018 sudah ada gejala penurunan hasil investasi portfolio THT, JKK, JKm sebesar Rp549 miliar. Seharusnya sudah dilakukan upaya cut loss atau mencegah penurunan lebih jauh. Misalnya dengan melakukan perubahan portfolio atau mengganti manajer investasi yang lebih kompeten. Namun hal ini tidak terjadi,” ucap Wartiah.

“Portfolio ASABRI THT, JKK dan JKM sebagian besar atau Rp 4,1 T masuk ke reksadana. Model penempatan dana di reksadana beresiko tinggi. Sehingga perlu dipertanyakan bagaimana seleksi pemilihan manajer investasi, sudah transparan dan berdasarkan performa atau tidak,” ujarnya lagi.

Wartiah menambahkan dalam dokumen pertanggungjawaban Benny Tjokro dan Heru Hidayat berkaitan dengan penurunan nilai investasi, disebutkan bahwa kedua tersangka akan mengembalikan dana total Rp 10,9 Triliun (masing-masing Rp 5,1 T dan Rp 5,89 T). Namun Wartiah mempertanyakan mekanisme pengembalian nilai kerugian, apakah menunggu proses pengadilan dengan penyitaan asset. 

“Aset kedua orang tersebut sebagian sifatnya aset non-liquid seperti tanah. Jika ASABRI mengakuisisi aset non-liquid sementara ada kewajiban yang sifatnya jangka pendek ini berpotensi mengganggu pembayaran klaim nasabah ASABRI,” katanya.  

“ASABRI bagian dari BUMN sehingga proses audit dilakukan oleh akuntan publik yang profesional. Maka proses akuntan publik itupun perlu dipertanyakan. Bagaimana peran auditor eksternal/ akuntan publik sebelum laporan BPK keluar. Bisa saja ada faktor manipulasi laporan keuangan sehingga tidak tercium permasalahan kerugian nilai investasi,” pungkasnya.