Gara Gara Covid 19, Bappenas : Daya Beli Masyarakat Hilang Mencapai Rp 362 Triliun

0
55
Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa (Foto : Istimewa)

EKBIZ.ID Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan pandemi Covid-19 memberikan kejutan luar biasa terehadap perekonomian Indonesia.

Menurutnya, virus ini menghilangkan daya beli masyarakat atau nilai konsumsi hingga mencapai Rp 362 triliun.

Katanya setelah pandemi ini masuk ke Indonesia, maka sejak akhir Maret telah dilakukan kebijakan pembatasan sosial oleh pemerintah. Kebijakan ini membuat daya beli masyarakat turun sehingga perekonomian di kuartal I-2020 hanya mencapai 2,97%.

“Jadi bahwa pandemi ini akibatkan dari tanggal 30 Maret – 6 Juni, kurang lebih 10 minggu dalam hitungan kami hilang jam kerja luar biasa, ini juga menghilangkan daya beli turun hinggaRp 362 triliun,” ujarnya di Ruang Rapat Komisi XI, DPR RI, Senin (22/6/2020). Dilansir CNBCIndonesia.

lebih lanjut Suharso menjelaskan, kalau hilangnya daya beli ini juga diakibatkan tidak adanya perputaran perekonomian atau jual beli di lapangan. Ini juga menjelaskan kenapa penghasilan sektor UMKM turun drastis luar biasa.

Tak hanya itu pembatasan sosial juga mengakibatkan tingkat produksi pabrik-pabrik industri manufaktur turun drastis. Dimana saat ini, ia mencatat tingkat utilisasi manufaktur hanya tinggal 30%.

Hal ini yang membuat pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendukung terutama daya beli masyarakat, agar UMKM dan sektor manufaktur bisa kembali berjalan. Dengan demikian maka perekonomian bisa terbantu agar tidak terlalu merosot.

“Kita tentu nggak akan biarkan kontraksi ini sepanjang tahun, makanya banyak hal yang kita lakukan. Pemerintah melalui Sosial Safety Net (SSN) berikan bantuan agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan kontraksi ekonomi di triwulan II bisa dijaga. Ini adalah pekerjaan rumah kita dalam rangka pemulihan ekonomi tahun 2021,” jelasnya.

Dari data Bappenas, hasil analisis yang dilakukan akibat penurunan jam kerja di sektor manufaktur, total kehilangan penghasilan dalam perekonomian mencapai Rp 1.158 triliun selama 30 minggu. Jumlah ini total terjadi dari total kehilangan jam kerja sebanyak 57,9 miliar jam.